Aya panik melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 07.10, ia sudah terlambat pergi ke sekolah. Setelah mengambil sepotong roti dari meja, ia langsung pamit dan menarik kakaknya yang sedang sarapan untuk segera mengantarnya. Untunglah Aya sampai tepat waktu.
“ Fiuuh.. selamaaaat! 2 menit lagi ga nyampe, bisa gawat nih!!” celotehnya.
Dan baru saja Aya akan melangkahkan kakinya ke gerbang sekolah, Aya dikagetkan oleh bunyi klakson dibelakangnya yang membuat Aya menghentikan langkahnya.
“ Hei, kamu ngagetin aja!” ujar Aya dengan wajah kesal sambil sedikit berteriak.
Orang itu membuka kaca mobilnya. Aya sedikit kaget karena melihat wajah orang itu. Tampan. Cool. Tipe cowok yang Cuma bisa ditemukan di manga atau anime saja.
"Kamu minggir dikit dong, aku bawa mobil nih.” Jawab anak yg mengendarai mobil itu.
“ Aku juga tahu! Aku bisa liat kok!” Omel Aya.
“ Makanya tolong minggir, biar mobilku bisa masuk.”
“ Enak saja, yang duluan nyampe kan aku, kenapa kamu yang masuk duluan???” Aya tidak mau mengalah, tadi ia buru-buru dari rumah sampe ga sarapan karena takut telat, sekarang malah ada orang yang seenaknya mau mendahuluinya, Aya tidak bisa membiarkan hal itu. Adu mulut antara mereka pun terjadi, mereka sama-sama tidak mau kalah, baru setelah mendengar bunyi bel mereka bisa diam dan bergegas masuk sekolah.
****
Bel pulang berbunyi, dan semua anak berhamburan keluar dari kelasnya. Aya melangkahkan kakinya menuju gerbang dengan riang gembira, karena didepan gerbang sana pasti kakaknya sudah menunggu seperti biasanya. Tapi…
“Lho, kok nii-chan ga ada…???” Aya heran ketika tidak menemukan kakaknya disekeliling tempat dimana kakaknya biasa menunggu. Padahal Takumi nii-chan ga pernah telat menjemputnya. Ini tidak biasanya, Aya mencoba menunggu kakaknya dan berfikir positif, mungkin macet, atau mobil nii-chan mogok, atau nii-chan disuruh dulu sama mama, fikirnya. Tapi setelah satu jam menunggu dan kakaknya tak kunjung datang Aya mulai panik. Tiba-tiba handphonenya bunyi, Aya lega karena itu telepon dari Takumi nii-chan.
“Moshi-moshi, nii-chan dimana? Aya udah pegel nih nungguin kakak..”
“Gomen nee, Aya-chan, hari ini Aya-chan pulang sendiri aja, nii-chan ga bisa jemput soalnya di kampus ada ujian dadakan. “ kata Takumi.
“tapi nii-chan,,,”
“tut..tut..tut..”
Kakak Aya mematikan telepon sebelum Aya sempat menolak atau mengiyakan. Aya bingung, Aya takut nyasar karena selama ini ia tidak pernah pulang sendiri. Saat itu, ada mobil yang tiba-tiba berhenti didepannya. Rupanya itu mobil anak yang tadi pagi bertengkar dengannya didepan gerbang.
“Mau kuantar??” ajak anak itu dari dalam mobil.
Aya tidak menjawab dan pura-pura tidak mendengar,
“Ya sudah kalau ga mau, aku duluan ya. Hati – hati sama Yakuza di sekitar sini. ” Ujar anak itu sambil menutup kaca mobilnya. Mendengar ucapan anak itu, Aya jadi makin takut dan akhirnya mau diantar pulang. Selama pejalanan, Aya diam seribu bahasa, begitu pula anak itu. Aya takut anak itu berniat jahat dan menculiknya. Pemikiran yang sangat tidak masuk akal, karena ternyata anak itu mengantarnya pulang dengan selamat sampai rumah, tapi anak itu langsung pergi sebelum Aya sempat mengucapkan terimakasih.
***
"Nee, Kurumi. Aku masih bingung sama cowok yang nganterin aku kemarin. Aku belum bilang makasih, dia udah pergi aja. “ Tutur Aya keesokan harinya pada sahabatnya disekolah
“ Itu artinya dia ga pamrih, kali.” jawab Kurumi sekenanya.
“ Iya, tapi aku ngerasa ga enak aja, kemarin udah mikir yang macem-macem tentang dia, aku kira dia mau nyulik aku. Ga enak juga sih udah utang budi.”
“Yare – yare. Kamu juga sih aneh – aneh aja. Lagian buat apa juga dia nyulik kamu, gak penting kali. Udah ga usah dipikirin, nanti juga ketemu lagi, satu sekolahan ini kan.. Mending ke kantin yuk, laper.”
Tanpa diduga, di kantin Aya melihat cowok yang kemarin mengantarnya, Aya pun menghampirinya.
“Eto… kamu yang kemarin kan?.” sapa Aya
“Eh, iya..”
“Makasih ya buat kemarin. Eto..”
“Shinjiro Atae.” jawab cowok itu.
“Atae-kun.”
“Shin saja cukup.”
“Eh, Shin-kun deshou? Aku Aya Hirano. Yoroshiku.”
“ Yoroshiku. Duluan ya..” Shin pamit karena teman-temannya yang mulai menggodanya. Aya melambaikan tangannya sambil tersenyum sampai Shin tak terlihat lagi. Ada sesuatu yang lain dalam hatinya saat melihat matanya.
“ Aya, kamu kenal sama dia?” ujar Kurumi yang dari tadi memperhatikannya
“ Eh, siapa?? Shin?” Tanya Aya. Kurumi mengangguk.
“Dia cowok yang kemarin itu” jelas Aya.
Kurumi langsung menceramahinya ketika mendengar hal itu. Kurumi membeberkan tentang siapa Shin sebenarnya.
“Shin itu sudah langganan dipanggil guru karena kelakuannya yang ga ada baiknya sama sekali. Dia langganan bolos, ngerokok, doyan berantem, dan gosipnya dia itu bosnya Yakuza!”
“Uso! Tapi dia cakep” Aya tidak percaya
“Terserah kamu deh, tapi jangan sampe deket-deket sama dia lagi, atau image kamu sebagai anak teladan dan pinter bakal rusak gara-gara dia” kata Kurumi.
Aya tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan Kurumi, toh belum tentu juga dia bakal kenal lebih jauh sama Shin, meski sebenernya Aya mengharapkan hal itu.
***
Ternyata takdir berpihak padanya, Aya semakin sering bertemu dengan Shin dalam berbagai kesempatan. Mereka jadi dekat karena sering bertemu. Sementara Shin sendiri memang sudah menyukai Aya jauh sebelum mereka saling mengenal. Shin hanya bisa mengaguminya dari jauh karena tidak mungkin Aya dengan segudang prestasinya mau berteman dengan seorang badboy seperti dirinya.
Tapi semua pikiran itu hilang seiring semakin dekatnya hubungan mereka. Aya tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentang Shin, karena dimatanya Shin tidak seburuk yang mereka katakan, meski selalu terlibat masalah. Shin itu punya hati yang tulus dan paling care sama temen-temennya, buktinya waktu itu dia mau mengantarnya pulang meski mereka tidak saling mengenal.
Seiring berlalunya waktu, mereka menyadari bahwa ada perasaan lain yang sama-sama mereka rasakan.
***
Kurumi marah besar ketika tahu aya menerima Shin sebagai pacarnya, ternyata ceramahnya selama ini sama sekali tidak dipedulikan.
“Aya, aku kan sudah bilang. Jauhi dia.. Sekarang kamu malah jadian sama dia. Gimana sih?”
“Shin itu ga seburuk yang kamu kira, dia baik dan sayang sama aku.’’ bela Aya
“Tetap saja, dia itu badboy, tukang ngelanggar peraturan sekolah, apa kata anak-anak nanti kalau mereka tauh, Aya, siswi yang tanpa cela ternyata pacaran sama anak tukang ngelanggar peraturan sekolah.” omel Kurumi
“Kurumi-chan, Shin itu baik kok..dan senyumnya itu…mematikan”
“iya, semua orang juga tahu kalau senyumnya Shin membawa kematian” jawab rani kesal sambil meninggalkan Aya yang bengong sendiri.
***
Meski awalnya ga setuju, tapi lama-lama Kurumi mengerti perasaann Aya, karena Aya selalu tersenyum dan terlihat bahagia saat bersama Shin, hal yang tak pernah dia lihat sebelumya. Dan sekarang Shin pun mulai merubah kebiasaanya, setidaknya sejak resmi pacaran sama Aya, Shin sudah ga pernah lagi bikin masalah disekolah dan gak dipanggil guru. Shin juga perlahan membiasakan diri untuk tidak merokok seperti dulu. Apapun ia lakukan untuk Aya.
***
Suatu hari, ketika pulang sekolah hujan turun dengan cukup lebat, dan mereka terpaksa diam di sekolah sampai hujan reda. Disana Aya mulai melihat keanehan pada Shin.
“Shin. Kamu kenapa ?” Aya heran ketika melihat hidung Shin berdarah.
“Kenapa apanya??” Shin balik bertanya
“Hidung kamu berdarah. Daijobou ka?” Aya mulai khawatir
Shin kaget dan gugup, “Daijobou da.” Katanya acuh tak acuh.
Aya sangat khawatir dengan apa yang baru saja terjadi dengan Shin. Tapi Shin menolak diajak ke dokter. Lama-kelamaan Aya semakin sering melihat Shin mimisan seperti itu, Aya jadi semakin khawatir. Apalagi ditas Shin Aya menemukan berbagai macam obat. Tiap kali ditanya, Shin selalu bilang kalau itu cuma vitamin biasa.
***
Suatu sore, Shin mengajak Aya pergi ke suatu tempat. Sebuah bukit yang indah dengan rumput yang menghijau, dari sana mereka bisa melihat matahari terbenam. Mereka mengobrol dan bercanda seperti biasanya, meskipun Aya tidak mengetahui keadaan Shin yang sebenarnya.
Karena hari mulai gelap, mereka pun bergegas pulang, meski sebenarnya berat melangkahkan kaki meninggalkan tempat dan suasana seindah itu.
Ketika Aya hendak keluar dari mobil untuk masuk ke dalam rumahnya, Shin malah memegang lengannya.
“Doushite?” kata Aya bingung.
Tetapi Shin hanya terdiam.
“Shin, kenapa?”
Shin tetap diam dan malah memeluk Aya. Erat sekali.
“Shin, aduh. Aku ga bisa nafas nih” kata Aya kaget.
“Eh, gomen. Nandemonai. Sudah, masuk sana. ”
“Kamu aneh hari ini.” Jawab Aya
“Ga kok Aya” kata Shin. “Oyasumi”
“Oyasumi” ujar Aya sambil masuk rumah.
***
Keesokan harinya, Aya bingung karena dia tidak menemukan Shin di sekolah. Sampai seminggu kemudian Shin tidak masuk sekolah dan tak kunjung menghubunginya. Dia sudah mencoba datang ke kelas Shin untuk bertanya pada teman – temannya tetapi tidak ada yang tahu keberadaannya. Sahabat Shin, Takenori juga tidak pernah terlihat di kelas. Ada apa sebenarnya? Pertanyaan Aya terjawab ketika Takenori datang ke kelasnya dan memintanya untuk datang ke rumah sakit.
“Shin..” Aya seolah tidak percaya saat meliat Shin sedang terbaring lemah.
“Shin selama ini sakit kanker hati. Seminggu ini dia ga ngehubungi kamu dan melarang aku buat ngasih tau kamu yang sebenarnya karena dia ga mau melihat kamu sedih, Aya” Jelas Takenori.
“Tapi melihat keadaan nya yang seperti ini, aku berharap dia bisa baikan setelah bertemu dengan kamu. Dia koma selama seminggu.” katanya melanjutkan.
Aya benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya dari Takenori, perasaannya tak menentu, baru saja Shin pergi menghabiskan waktu bersamanya, dan sekarang, Shin terbaring lemah seperti ini. Perlahan Aya menghampirinya, Aya tidak dapat berkata apa-apa, hanya airmatanya yg menetes melukiskan betapa sakitnya ia melihat Shin seperti ini.
“Shin..” kata Aya pelan.
Bagaikan keajaiban, suara Aya membuat mata Shin perlahan membuka.
“A.. ya? Kenapa kamu disini?”
“Shin baka! Kenapa kamu diam saja? Kenapa ga bilang sama aku kamu sakit? Kenapa, Shin? Kenapa?” Aya tak bisa lagi menahan air matanya.
“Gomen.. Aku ga bilang sama kamu karena aku yakin kamu pasti akan menangis. Aku tidak mau melihatmu menangis” jawab Shin lemah.
Aya tidak bisa berkata apa – apa. Dia hanya memegang tangan Shin dan terus menangis.
“Waratte..” kata Shin semakin lemah.
“Apa? Mana bisa aku tersenyum di saat seperti ini, Shin?” jawab Aya
“Onegai..”
Aya mengerti bahwa Shin akan segera pergi. Dia sudah tak tertolong lagi. Aya merasa hatinya sakit sekali. Tetapi, dia mengabulkan permintaan Shin. Walaupun dengan berurai air mata, Aya tersenyum. Senyum yang penuh dengan kepedihan.
“Kamu cantik kalau tersenyum. Tetap tersenyum seperti itu.” Kata Shin sambil tersenyum lembut. Senyum yang mebuat Aya makin merasa sedih. Aya makin mempererat genggam nya pada tangan Shin, seolah ingin mencegah Shin pergi. Tapi dia tahu hal itu takkan berhasil.
“zutto, zutto.. su..ki da..yo” Shin menutup matanya. Untuk selamanya.
***
_OWARI_
READ MORE - Ai (Love) - Cerita Fiksi :)